Rabu, 31 Oktober 2018

Jenis-Jenis Raid Hardisk Server

Apa itu RAID? Menurut Wikipedia, RAID (yang kepanjangannya adalah Redundant Array of Independent Disks), adalah sebuah teknologi di dalam penyimpanan data komputer yang digunakan untuk mengimplementasikan fitur toleransi kesalahan pada media penyimpanan komputer (utamanya adalah hard disk) dengan menggunakan cara redundansi (penumpukan) data, baik itu dengan menggunakan perangkat lunak, maupun unit perangkat keras RAID terpisah.
Dengan RAID, data yang disimpan akan dibagi/direplika ke beberapa hardisk  secara terpisah, guna untuk meningkatkan kehandalan data atau bisa juga untuk meningkatkkan performa I/O hardisk.
Kehandalan data bisa terpenuhi dengan RAID karena penyimpanan data tidak hanya diletakkan di beberapa disk. Jika ada disk yang rusak, data akan tetap aman, dan hardisk yang rusak dapat diganti dengan segera tanpa mempengaruhi eksistensi data.
Peningkatan performa I/O hardisk bisa terpenuhi karena ketika hardisk melakukan baca/tulis tidak dilakukan sendiri, tetapi dilakukan bersama-sama dengan hardisk lainnya. Istilahnya mereka secara gotong royong melakukan tugas. Sebagai contoh, RAID 0 dengan 2 hardisk, jika kecepatan per disk adalah 7200 rpm, maka dengan RAID 0, kecepatan berlipat ganda, 2 x 7200 rpm = 14400 rpm!

Sejarah RAID

Penggunaan istilah RAID pertama kali diperkenalkan oleh David A. Patterson, Garth A. Gibson dan Randy Katz dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat pada tahun 1987. Tetapi walaupun mereka yang menggunakan istilah RAID pertama kali, tetapi hak paten RAID sejatinya dimiliki oleh Norman Ken Ouchi dari IBM, yang pada tahun 1978 mendapatkan paten nomor 092732 dengan judul “System for recovering data stored in failed memory unit”.

Level-Level Standar RAID

Pada dasarnya, level standar RAID ada 5. Tetapi seiring dengan perkembangan teknologi komputer, beberapa level-level baru bermunculan. Di artikel ini, saya akan membahas 7 level RAID yang sering digunakan.
RAID 0
Diagram RAID 0RAID 0 (atau yang disebut juga dengan stripe set atau striped volume), data akan disimpan terpisah secara merata ke dua hardisk atau lebih, tanpa informasi parity untuk meningkatkan kecepatan. Parity data di RAID digunakan untuk memeriksa error hardisk & mendapatkan redundansi data. Jika ada hardisk yang rusak, secara otomatis RAID akan melakukan rekonstruksi data pada hardisk yang baru.
Nah, pada RAID 0, parity data tidak ada, sehingga jika ada hardisk yang rusak, maka secara otomatis data akan rusak. Tidak ada redundansi/kehandalan data di level RAID 0. Pada umumnya, RAID 0 digunakan untuk meningkatkan performa baca/tulis saja, atau untuk memperbesar kapasitas simpan, tanpa mementingkan redundansi data.
Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, dengan RAID 0, kecepatan I/O hardisk akan meningkat karena kinerja baca/tulis dikerjakan bersama-sama. Dengan 3 hardisk SATA 7200 rpm, anda akan memiliki performa setara 3 x 7200 rpm = 21600 rpm.
Dengan RAID 0, 3 x 1 TB hardisk = 3 TB hardisk!
RAID 1
RAID 1 Dengan RAID 1, data di hardisk pertama akan di salin (mirroring) persis sama ke hardisk kedua. Jika anda lebih mementingkan performa baca & kehandalan data, ketimbang simpan, maka RAID 1 adalah pilihan yang pas.
Pada RAID 1, jika pada salah satu hardisk terjadi kerusakan, maka data akan tetap aman karena sudah tersalin di hardisk kedua. Jika hardisk yang rusak mendapatkan ganti, maka secara otomatis RAID 1 akan melakukan salinan/mirorring ke hardisk yang baru.
2 Hardisk yang diatur dengan RAID 1, total kapasitasnya hanya seperti memiliki 1 hardisk saja. Jadi semisal 2 x 1 TB hardisk dengan RAID 1, maka kapasitas simpan yang bisa dipakai adalah 1 TB saja.
Kecepatan baca/tulis pada RAID 1 cukup bagus, walau tidak setinggi performa pada RAID 0. Kekurangan RAID 1 hanyalah pada kapasitas simpan saja.
RAID 1 banyak digunakan pada operating system (OS) & transactional database.
RAID 5
rsz_2raid_5 RAID 5 menggunakan metode block-level striping dengan data parity didistribusikan ke semua hardisk. RAID 5 cukup populer karena mampu menghadirkan redundansi data dengan biaya yang tidak terlalu besar.
RAID 5 memiliki toleransi kerusakan disk hanya satu saja, sama seperti RAID 1. Jadi, jika anda menggunakan 3 x 1TB hardisk, maka kapasitas simpan yang bisa digunakan adalah 2 TB saja, karena 1 TB lainnya digunakan untuk toleransi kerusakan.
RAID 5 memiliki performa baca dua kali lipat lebih cepat, tetapi tidak ada peningkatan pada performa tulis. RAID level ini dianjurkan untuk penyimpanan data, file server, atau untuk backup server.
RAID 6
RAID 6 RAID 6 sejatinya hampir sama dengan RAID 5, yang membedakan cuma penambahan parity block. Jika pada RAID 5 toleransi kerusakan disk hanya satu, pada RAID 6 memiliki 2 disk. Dengan penambahan ekstra parity block, maka redundansi data lebih bagus ketimbang RAID 5.
Performa baca/tulis tidak ada beda dengan RAID 5. Level RAID 6 biasanya dianjurkan untuk solusi HA (High Availability), Mission Critical Apps, dan server yang membutuhkan kapasitas simpan yang besar).
RAID 10
RAID 10 RAID 10 biasa juga disebut dengan RAID 1+0 atau RAID 1&0, mirip dengan RAID 0+1, cuma perbedaanya adalah penggunaan level RAIDnya dibalik.
RAID 10 sebenarnya bukan level standar RAID yang diciptakan untuk driver Linux MD. RAID 10 membutuhkan minimal 4 buah hardisk.
RAID 10 adalah kombinasi antara RAID 0 (data striping) dan RAID 1 (mirroring). Memiliki performa baca/tulis & redundansi data tertinggi (memiliki toleransi kerusakan hingga beberapa hardisk).
RAID 10 memiliki toleransi kerusakan 1 hardisk per mirror stripe.
RAID 10 biasanya banyak diimplementasikan pada database, web server & server aplikasi atau server-server yang membutuhkan performa hardisk tinggi.
RAID 50
RAID_50 RAID 50 (atau juga disebut dengan RAID 5+0) merupakan kombinasi block-level striping dari RAID 0 dengan distribusi parity dari RAID 5. RAID 50 membutuhkan minimal 6 hardisk.
Jika salah satu hardisk dari masing-masing RAID 5 ada yang rusak, data akan tetap aman. Akan tetapi jika hardisk yang rusak tidak segera diganti, dan hardisk dari RAID 5 tersebut ada yang rusak lagi, maka semua data di RAID 50 akan rusak. Penggantian hardisk harus dilakukan agar data tetap terjaga redundansinya.
RAID 50 memilik toleransi kerusakan 1 hardisk per sub-array. Seperti halnya RAID 10, RAID 50 juga memiliki performa baca/tulis & redundansi data tinggi (memiliki toleransi kerusakan hingga beberapa hardisk).
RAID 50 biasanya banyak di implementasikan pada server database, server aplikasi, dan server penyimpanan file.
RAID 60
RAID_60 RAID 60 (atau juga disebut dengan RAID 6+0) merupakan kombinasi block-level striping dari RAID 0 dengan distribusi parity dari RAID 6. RAID 60 membutuhkan minimal 8 hardisk.
RAID 50 dan RAID 60 tidak banyak perbedaan, yang membedakan hanya pada toleransi kerusakan hardisk. Jika pada RAID 50 toleransi kerusakannya 1 hardisk per sub-array, sedang di RAID 60 adalah 2 hardisk per sub-array.
RAID 60 biasanya banyak di implementasikan pada solusi High Availability, Mission Critical Apps,atau server yang membutuhkan kapasitas simpan besar.


sumber : https://tuts.web.id/apa-itu-raid-panduan-perbandingan-lengkap-tentang-teknologi-raid/#comment-871

Selasa, 23 Oktober 2018

Membuat Multi Domain Di Localhost Dengan XAMPP


Sebelumnya saya akan menjelaskan dulu tentang pengertian domain, agar pembahasan ini dapat lebih dimengerti. Dalam dunia internet, khususnya dalam penggunaan website, ada dua istilah yang sering digunakan, yaitu hosting dan domain.
Hosting dapat dianalogikan sebagai sebuah rumah atau tempat, dimana kita bisa menaruh kursi, meja dan banyak peralatan lainnya di situ. Dalam sebuah hosting, kita dapat menaruh banyak “peralatan” seperti yang kita mau, misalnya gambar, tulisan, form kontak, dan sebagainya. Jadi, hosting adalah tempat di mana website kita berada, secara fisik.
Sedangkan domain, bisa dianalogikan atau diistilahkan sebagai alamat atau nama jalan. Sebetulnya, setiap website sudah memiliki “alamat” sendiri. Namun bentuknya adalah dalam bentuk deretan angka yang sulit untuk dihapalkan, yang disebut IP Address atau Internet Protocal Address.
Misalnya, alamat “fisik” untuk kompas.com adalah 202.61.113.35. Sekarang, mana yang lebih kita pilih untuk membuka halaman website Kompas? Mengetikkan angka 202.61.113.35, atau mengetikkan kompas.com, pada address bar di browser yang kita pakai? Mana yang lebih mudah kita ingat? Angka 202.61.113.35, atau kompas.com? Tentunya kita akan lebih memilih kompas.com.
Itu jika hosting yang disewa atau dimiliki adalah “dedicated hosted”, yaitu hosting yang secara ekslusif, hanya digunakan untuk satu alamat domain, seperti kompas.com tadi. Bagaimana jika hosting yang digunakan adalah “shared hosted” atau hosting yang dipakai bersama? Akan lebih rumit lagi jadinya. Contohnya adalah blogdokter.com, sebuah blog yang membahas tentang kesehatan. IP Address-nya adalah 104.28.13.141. Coba ketikkan deretan angka tesebut (104.28.13.141) pada address bar browser, lalu tekan tombol Enter. Yang terbuka bukannya halaman blogdokter.com, melainkan sebuah halaman yang memberitahukan bahwa kita tidak diizinkan untuk membuka halaman tersebut secara langsung, alias harus mengetikkan “nama” domainnya, yaitu blogdokter.com. Demikian juga jika kita mengetikkan IP Address untuk blog bernama dzofar.com, sebuah blog yang berisikan banyak tutorial untuk membuat gambar vector. Coba ketikkan deretan angka 68.65.120.223, pada address bar di browser kita. Apa yang terjadi? Bukannya halaman dzofar.com yang terbuka, melainkan sebuah halaman yang memberitahukan agar kita menghubungi webmaster dari hosting tersebut.
Kenapa dua hal terakhir terjadi? Kenapa jika kita mengetikkan angka 104.28.13.141 atau 68.65.120.223, yang terbuka bukannya halaman blogdokter.com atau dzofar.com? Itu karena mereka, menaruh blog mereka, pada “shared-hosted” alias hosting berbagi. Apakah itu salah? Sama sekali tidak. Apakah artinya mereka adalah blog yang jelek? Sama sekali tidak. Mereka adalah contoh dari banyak web atau blog di dunia ini, yang memakai shared-hosted untuk menaruh blognya. IP Address mereka sama, namun domain yang dipakai berbeda-beda, sesuai dengan folder (atau ruangan) yang mereka miliki.
Shared-hosted dinilai lebih efektif untuk website-website atau blog-blog yang berukuran kecil, yang biasanya dimiliki dan dijalankan oleh orang pribadi atau perusahaan kecil. Analoginya seperti apartemen, yang alamat fisiknya sama, namun lantainya beda.
Jadi, kesimpulannya, jika hosting adalah rumahnya, maka domain adalah alamatnya. Mudah-mudahan sampai di situ bisa dimengerti.
Kembali ke pembahasan utama, kita akan coba membuat sebuah “shared-hosted“, di komputer kita sendiri, alias di localhost. Maksudnya bagaimana ya? Maksudnya adalah kita bisa membaut beberapa web/blog dengan alamat domain yang berbeda, namun dengan IP Address yang sama, yaitu 127.0.0.1. Kenapa 127.0.0.1? Karena IP Address 127.0.0.1, sudah disiapkan sebagai IP Address dari localhost. Jadi, jika kita mengetikkan http://localhost/, sebenarnya kita mengetikkan http://127.0.0.1.
Syarat pertama untuk dapat membuat shared-hosted di localhost ini, tentu saja adalah sudah terinstallnya web-server di komputer kita. Jika belum memilikinya, XAMPP bisa menjadi salah satu pilihan. XAMPP sendiri sebenarnya bukan webserver. Namun, XAMPP adalah sebuah aplikasi “lengkap” yang terdiri dari apache  webserver, php processor, mysql database administration, dan beberapa tools lainnya. Oiya, Anda dapat mengunduh atau men-download-nya di sini. Download aplikasinya, install sesuai dengan petunjuk yang ada, dan kita bisa mulai.
Dengan asumsi bahwa webserver yang digunakan adalah Apache (untuk webserver jenis lain seperti Microsoft Web Server atau IIS, silahkan googling), maka kita bisa mulai dengan langkah pertama, yaitu dengan membuka file httpd-vhosts.conf. Letaknya (biasanya) ada pada folder “c:\xampp\apache\conf\extra”. Silahkan buka folder tersebut dan cari file httpd-vhosts.conf, lalu edit file tersebut. Gunakan editor kesukaan masing-masing. Saya sendiri memakai PsPad sebagai editornya.
vhost-folder
Dengan editor, buka file tersebut, lalu cari baris seperti berikut:
vhost0
Copy seluruh baris pada blok tersebut (pada gambar di atas, mulai dari baris 29 s/d baris 36, nomor baris bisa berbeda sesuai dengan kondisi pada komputer masing-masing), lalu tempatkan pada baris paling bawah. Lalu hilangkan tulisan “##” yang berada di depan dari tiap baris yang tadi kita copy, kemudian ubah juga namanya menjadi nama sesuai keinginan kita. Contohnya seperti di bawah ini:
vhost2
Yang perlu diperhatikan adalah baris yang berisikan tulisan ‘DocumentRoot “c:/xampp/htdocs/namaweb”‘. Itu adalah folder real atau fisik yang ada di komputer kita. Jadi jika kita menggunakan nama folder namaweb, maka yang tertulis di situ juga harus nama folder yang sama, secara lengkap. Contohnya seperti di bawah ini:
nama-web-folder
Terlihat di atas bahwa folder “namaweb”, ada dan terletak pada subfolder “xampp/htdocs“. Pada folder tersebutlah, kita akan mengisi file-file yang akan kita gunakan sebagai “isi” dari web kita nanti. Setelah itu, silahkan restart xampp Anda. Caranya dengan menjalankan file “xampp-control.exe“, yang (biasanya) terletak pada folder “c:/xampp“, seperti gambar di bawah.
xampp0
Setelah terbuka, akan terlihat status dari modul “Apache” yang sedang running.
xampp1
Klik tombol “Stop” yang terletak di sebelah kanannya, sehingga statusnya terlihat seperti berikut ini:
xampp2
Klik lagi tombol “Start” yang berada di sebelah kanannya, untuk kembali menjalankan “Apache Webserver”, sehingga statusnya kembali aktif seperti terlihat di bawah ini.
xampp3
Selanjutnya yang harus kita lakukan adalah memodifikasi file “hosts” yang berada pada folder “c:\windows\system32\drivers\etc“. Cari file bernama “hosts”, buka dan cari baris berikut:
hosts1
Copy baris “# 127.0.0.1   localhost“, ke baris kosong di paling bawah, dan hilangkan tanda “#” di depannya, dan ubah tulisan “localhost” menjadi namaweb.com, sehingga menjadi seperti berikut ini:
hosts2
Dengan cara tersebut, maka kita bisa membuat beberapa web, dengan jumlah yang banyak sesuai keinginan kita. Contohnya seperti di bawah ini. Saya membuat tiga “web” dengan tiga domain berbeda, yaitu eny-riyani.com, cemutmelah.com serta programming.com.
vhost3
Dan foldernya adalah sebagai berikut, sesuai dengan yang tertulis pada file httpd-vhosts.conf di atas.
host-folder
Sedangkan isi dari file hosts-nya adalah sebagai berikut:
hosts3
Sekarang ketikkan 4 (empat) alamat tersebut di atas, yang telah kita buat sebelumnya (kalau seperti yang saya buat yaitu namaweb.com, eny-riyani.com, cemutmelah.net, dan programming.com). Apa yang terjadi? akan tampil sebuah halaman kosong seperti di bawah ini:
web1
Ya, memang masih kosong, karena kita belum mengisinya dengan konten yang kita inginkan. Sebagai contoh, saya akan mengisi eny-riyani.com dengan cms WordPress. Yang lainnya akan saya atur lagi nanti. Berikut ini tampilannya setelah saya install dengan cms WordPress.
eny-riyani
Lihat? Saya bisa “memiliki” beberapa web sekaligus, secara gratis. Ya, tentu saja gratis. Karena seluruh alamat web tersebut, hanya ada di localhost di komputer saya, atau dengan kata lain, saya bisa membuka ke empat alamat web tersebut di atas, hanya di komputer saya, dan tidak di komputer lain. Namun, dengan cara ini, saya bisa belajar web programming atau/atau web design, dengan lebih mudah dan dengan cara yang lebih menyenangkan, karena seakan-akan saya sudah memiliki web sesungguhnya.
Cara yang sama, bisa diterapkan jika kita memiliki sebuah tempat kursus web programming dan/atau web-design.
Sebagai catatan, konfigurasi yang dituliskan di dalam file hosts, akan berpengaruh saat kita membuka halaman dengan alamat yang sudah dituliskan di situ. Jadi jika misalnya kita menuliskan baris berikut pada file hosts:
127.0.0.1.  microsoft.com
Maka begitu kita mengetikkan alamat microsoft.com pada address bar di browser yang kita pakai, halaman yang terbuka bukanlah halaman microsoft.com yang sesungguhnya, melainkan halaman yang ada pada komputer kita, sesuai dengan konfigurasi yang dituliskan sebelumnya. Jadi, berhati-hatilah, karena jika tidak, hal tersebut akan menyebabkan kita membuka halaman website yang salah. Hal ini terutama jika kita sudah selesai dalam membuat website yang kita inginkan, dan ingin meng-upload-nya ke webserver sesungguhnya yang ada di internet.
Dan ingat, bahwa “virtual shared-host” ini hanya berlaku di komputer kita saja, bukan di komputer orang lain.


sumber : https://cemutmelah.wordpress.com/2017/01/29/membuat-multi-domain-di-localhost/

Rabu, 12 September 2018

Kamis, 23 Agustus 2018

membuat akses telnet & SSH Cisco

username admin privilege 15 secret adminlocal
username maman privilege 15 secret maman
!
line con 0
 login local
line vty 0 4
 login local
 transport input all
line vty 5 15
 login local
 transport input all
!

Sabtu, 11 Agustus 2018

Ini bedanya 0 dan +62 pada no HP

Handphone (HP) saat ini sudah menjadi kebutuhan tersendiri seseorang. HP bahkan kini telah menjadi barang bawaan wajib selain dompet. Kemanapun orang pergi, membawa HP sudah jadi kebiasaan. Jangankan berpergian, ke toilet sekalipun beberapa orang akan membawa benda temuan Martin Cooper ini.

Dalam penggunaan HP sendiri, tentu akan familiar dengan nomor telepon. Nomor telepon merupakan susunan angka-angka yang tersusun atas beberapa nominal angka yang memiliki nada-nada dan frekuensi tertentu.

Jika kamu sering menyimpan kontak di HP-mu tentu nomor telepon yang akan kamu simpan atau yang telah kamu simpan senantiasa diawali dengan angka 0 atau +62.

Lalu, tahukah kamu apa perbedaan penggunaan 0 dan +62?

Perihal pengunaan angka 0 atau +62 mungkin akan terlihat begitu sederhana, namun hal ini merupakan hal yang cukup penting untuk dipahami. Pada dasarnya +62 sama dengan 0, tapi ternyata dalam penggunaannya cukup berbeda. Bahkan kalau kamu salah dalam mengguna 0 atau +62 itu akan berakibat fatal, sebab nomor yang kamu tuju tidak akan terhubung. Kok bisa?

Kode +62 merupakan kode negara yang digunakan untuk Indonesia. Setiap negara di dunia memiliki kode tersendiri untuk nomor teleponnya yang berlaku internasional. Tidak sekedar kode, penggunaan +62 berfungsi menghubungkan Indonesia dengan dunia internasional.

Untuk penggunaan 0 sendiri sebenarnya secara resmi seharusnya tidak digunakan. Karena faktor kebiasaan yang menyebar luas di masyarakat, maka kecenderungan menggunakan angka 0 bukan +62 lebih familiar dan memudahkan penyebutan nomor HP.

Untuk memilih 0 atau +62 dalam berkomunikasi harus lebih selektif. Jika menggunakan angka 0 maka telepon atau SMS yang dilakukan akan sampai jika orang yang dituju berada di Indonesia saja. Beda halnya dengan kode +62, meskipun orang yang kamu tuju sedang berada di luar negeri kamu tetap masih bisa menghubunginya.

Singkatnya, jika kamu menggunakan 0 maka kamu hanya dapat terhubung di dalam negeri saja dan di luar negeri tidak akan tersambung. Saat kamu menggunakan +62, baik di dalam negeri ataupun di luar negeri akan tetap tersambung.

Gimana setelah menyimak penjelasan di atas? kamu berniat untuk membenahi penulisan nomor telepon di HP-mu?

sumber : www.brilio.net

Sang guru itu melambaikan tangannya kepadaku

 
Bp Musta'in Abror, sang guru dari Candikidul
Siang menjelang sore, langit tak begitu cerah bahkan kayaknya mau turun hujan. Aku melangkah di jalan yang menanjak itu, jalan yang biasa kami sebut "pethung".Tiada orang lain, yang ada hanya aku di sepanjang jalan itu.

Aku menoleh kearah kiri, kearah mushola kecil yang telah berdiri puluhan tahun di kampung kami. Masih sama, ada “undak-undakan” di depannya dan juga tulisan “batas suci” warna merah yang kusam, dan beberapa sandal jepit yang tak tertata rapi. Di depannya ada beberapa pohon pisang, ada satu yang tengah berbuah. Di bawahnya ada tumpukan sampah dari bersih-bersih tadi pagi.

Ada Pak Mustain disana, memakai sarung kotak-kotak dan kaos berkerah garis putih dengan peci putih berhias kuning melingkar berdiri bersandar di tiang, di teras rumah sederhana yang dindingnya terbuat dari papan yang disusun dengan kaca jendela dan tirai warna merah kusam. Dari tiang ke tiang yang lain ada beberapa kayu yang disusun sebagai batas dan hiasan. Pak Mustain tersenyum dan melambaikan tangan kearahku dan akupun melangkah kearahnya. Tepat didepan mushola aku berhenti, tertunduk dan tersadar, bukankah beliau telah “pergi” beberapa bulan yang lalu. Aku dongakkan kepala lagi, Aku lihat beliau sudah tidak ada di teras itu, hanya pintu yang terbuka tanpa siapa-siapa.

Aku menuju pintu yang terbuka tersebut, aku lihat istri beliau tengan bangun dari tidur, ia melihatku tapi diam saja ketika aku menyapa beliau seakan-akan beliau tidak melihatku. Lama beliau melihat kearahku, tatapannya kosong, tatap mata kehilangan. Kemudian dengan gontai beliau melangkah menuju ke dapur. Aku menangis melihat beliau tidak mendenganr suaraku, aku menangis sesenggukan sambil melihat pintu dan karpet lantai rumah itu, aku panggil lagi beliau namun beliau tidak mendengar dan hilang dibalik tirai kearah dapur.

Tiba-tiba aku terbangun, Ya Allah ternyata ini mimpi dan ternyata aku benar-benar menangis. Sampai tulisan ini diupload aku masih menangis bila ingat mimpi ini. Enam kali sudah dari pagi sampai sore ini aku menangis, gemuruh rasanya hati ini. Entahlah…..

Semoga engkau mendapat terbaik di sisi Gusti Allah wahai engkau sang guru.



*Mimpi ini aku alami 11 Agustus 2018, ba’da Subuh
*Cerita ini aku tulis di blog ini setelah mendapatkan ijin dari Mas Nur Zaman, selaku anak beliau



Senin, 06 Agustus 2018

Reset Cisco

Menghapus Semua Konfigurasi
Switch#erase startup-config
Switch#dir
Switch#delete flash:vlan.dat
Switch#dir
Switch#reload

Jenis-Jenis Raid Hardisk Server

Apa itu RAID? Menurut Wikipedia, RAID (yang kepanjangannya adalah Redundant Array of Independent Disks ), adalah sebuah teknologi di dalam...